Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Matahari masih belum beranjak meninggi, sinarnya redup, masih malu-malu belum menunjukkan bentuk utuhnya, sementara gelap sudah mulai berangsur-angsur pergi, namun udara dingin pagi masih terasa menusuk tulang.
Lalu lalang kendaran sudah berangsur ramai, mengusik, meninggalkan suara bising dan bau asap knalpot, semua tergesa-gesa terburu-buru hanya ingin segera sampai tujuan.
Pemandangan pagi yang lumrah, biasa terjadi dipinggiran kota metropolitan, semua orang seakan fokus pada tujuannya, tidak menghiraukan apa yang ada sekitarnya, terburu-buru untuk menghindari macet yang sebentar lagi menyapa dijalanan ibu kota.
Pinggiran kota ini merupakan salah satu akses penghubung menuju pusat bisnis dan pusat pemerintahan, yang menjadi magnet bagi warga, kota yang tidak pernah tidur dan terus hidup dan berdenyut.
Jalan itu adalah jalan yang terbiasa saya lewati saban hari ketika menuju ke kantor, saya pilih jalan ini karena tidak begitu padat.
Meskipun kondisi jalan masih semrawut, terparkir sana sini alat-alat berat bekas pekerja semalam, badan jalan kadang ditutup sebagian dan masih menemukan bekas-bekas pekerjaan pembangunan proyek trasportasi massal yang belum tahun kapan selesainya.
Setiap saya melewati ruas jalan ini, pandangan mata saya mengarah pada satu titik, yang luput dari pandangan orang, tepat ditepi jalan depan gang sempit, hanya muat kendaraan roda 2 ramai hilir mudik keluar masuk gang.
Dibawah tiang listrik dengan kabel terurai, menjulur tidak teratur, seorang pria remaja duduk beralasan kardus, asik membaca koran, disampingnya teronggok karung berisi botol plastik atau rongsokan. Sepertinya rutinitas ini selalu dilakukan setelah dia menyelesaikan pekerjaannya yaitu memulung.
Satu atau dua kali saya melihatnya masih biasa saja, saya pikir hanya kebetulan, namun hari demi hari, minggu berganti pemandangan itu tidak berubah, saya merasa takjub, penasaran, berkecamuk heran, bagi saya ini anomali dikota besar seperti Jakarta ini.
Pemandangan pagi dipinggir ibu kota, bagi saya adalah pemandangan langka, sekaligus menampar keras saya.
Baginya mungkin runtunitas membaca adalah kebutuhan, tidak perlu menunggu ketika berada ruang nyaman, di kafe ditemani secangkir kopi, mencari bacaan yang sesuai atau bahkan menunggu ketika mood membaca datang.
Kebiasaan membaca dikalangan remaja seperti hal yang langka saat ini, bahkan sudah digantikan dan digeser dengan smart phone, sehari-hari kita dimanjakan dengan media sosial, setiap hari lini masa dijejali konten yang tidak pernah berhenti. Mesin algoritma bekerja menyajikan apa yang kita mau sehingga sering terlena.
Namun, bukti ilmiah justru menunjukkan temuan yg mengejutkan, harian Kompas belum lama ini, mengangkat artikel yang diambil dari sebuah penelitian journal of research on adolescene 2026 dari university of Georgia Athens, Georgia, Amerika Serikat. Bermain medsos menjadikan remaja kini sulit untuk membaca.
Apabila kita menengok kebelakang, sejarah bangsa indonesia, negara kita bisa mencapai kemerdekaan karena dipimpin oleh tokoh intelektual seperti sukarno dan muhammad hatta yang menjadikan membaca sebagai landasan utama membawa kompas arah bangsa.
Saya berkeyakinan apa yang terjadi dipinggiran kota ini, ada orang yang terus memupuk ruang Impian, menabung pundi-pundi pengetahuan sebagai pijakan untuk menyongsong kesempatan dimasa depan melalui membaca.
Sumber Gambar Ai