Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Cape Verde atau dalam bahasa Indonesia Tanjung Verde, baru-baru ini menjadi buah bibir diseluruh dunia. Sabtu pagi waktu Indonesia (4/7), timnas Tanjung Verde bermain hebat dalam perhelatan historis piala dunia babak 32 besar, meskipun harus menelan kekalahan 3-2 dari Argentina.
Debut putaran menuju final piala dunia tahun 2026, tergabung dalam grup H yang dihuni oleh negara-negara langganan piala dunia seperti Spanyol, Uruguay. Catatan apik di group H ditorehkan sempurna tidak pernah mengalami kekalahan, berhasil menahan imbang Spanyol, Uruguay, Arab Saudi dan tidak pernah kalah sepanjang fase penyisihan group.
Kesebelasan dari negara kepulauan di tengah Samudera Atlantik, dengan penduduk sekitar 500 ribu orang, atau setara dengan satu kota/kab di Indonesia datang sebagai kuda hitam, tim bukan unggulan atau underdog dan menjalani debut pertama yang tidak pernah diperhitungkan oleh lawannya.
Kejutan pertama saat memainkan laga perdana mampu merepotkan, membuat frustasi para pemain dan memberikan perlawanan sengit Spanyol, dengan tidak memberikan ruang untuk mencetak gol.
The blue sharks berangkat dengan hanya bermodal semangat dan mengandalkan kekuatan keberanian, didalam squad ini tidak dihuni pemain elit yang berlaga di laga liga top dunia. Namun tim yang dibawa hanya berbekal keinginan untuk mewujudkan mimpi-mimpi anak pulau berlaga di Piala dunia.
perjalanan mewujudkan mimpi di panggung dunia, menemui rintangan harus berhadapan dengan mantan juara dunia yaitu Argentina. Siapa sangka, tim dari negara kecil ini mampu memaksa dan memberikan pelawanan sengit dan berjuang hingga titik terakhir. Sang juara bertahan dipaksa bermain habis-habisan dengan menurunkan squad terbaiknya sampai masa perpanjangan waktu.
Bermain apik, terus mengejar bola tidak kenal lelah, jual beli serangan dan menahan berbagai gempuran, serangan bertubi-tubi datang dari berbagai penjuru dalam 120 menit. Mungkin karena terbiasa hidup di pulau kecil yang biasa berkawan dengan terjangan dan badai ganas Samudera Atlantik.
Di balik kehebatan tim ini, ada sosok yang menjadi perhatian utama yaitu sang penjaga gawang Josimar Dias atau Vozinha. Dalam semua laga dia tampil begitu gemilang, berjibaku mengamankan gawangnya dari serangan pemain elit dunia. Penjaga gawang yang usianya tidak muda lagi bagi pemain professional yaitu berusia 40 tahun.
Vozinha merupakan pemain kunci, sebagai penjaga gawang dan mengamankan area pertahanan terakhir, benteng kokoh yang tidak tergoyahkan, terus menepis dan menjaga asa untuk menggapai mimpi dirinya, kawan satu timnya serta negaranya.
di layar televisi ada pemandangan yang menarik, ketika pluit akhir ditiup oleh sang wasit, kawan-kawan satu tim terpuruk kecewa dan lemas, terjatuh bersimpuh dan menangis dilapangan. Namun Vozinha justru menghampiri satu persatu, membangkitkan dan mengangkat moral serta mental satu timnya untuk tetap kuat, tegak dan bangkit.
Perjuangan Tanjung Verde harus berakhir, mimpi Vozinha harus terkubur, namun perjuangannya mengantarkan Tanjung Verde dikenang sepanjang masa dan negaranya dikenal sejagat raya.
Tanjung Verde bagaikan Mutiara ditengah lautan yang terus berkilau.
Foto : dibuat oleh Ai