Kritik

Belum lama media sosial riuh dengan berita viral yaitu lomba cerdas cermat (LCC) 4 Pilar MPR, Josepha siswi kelas XI SMAN 1 Pontianak menyampaikan keberatan atas Keputusan juri. Peristiwa itu menjadi perbincangan hangat di masyarakat luas dan banjir apresiasi atas keberanian dan keteguhannya mengoreksi keputusan dewan juri yang tidak adil dalam penilaian.

namanya netizen, ada yang membandingkan dengan lomba cerdas cermat pada film laskar Pelangi yang seharusnya juri mendengarkan dan mengakomodir kritik dari peserta atau guru.

Kali ini bukan membahas cerdas cermat itu sendiri, namun memetik pelajaran yang berharga dari peristiwa itu untuk merefleksi diri kita dari tindakan dan keputusan dewan juri yang justru mengabaikan kritik demi kewibawaan semata.

Kritik atau koreksi sering merupakan hal yang lumrah dan lazim kita terima, apalagi dalam dunia kerja, kadang datang dari atasan dari sesama bahkan kadang muncul dari bawahan.

Menerima kritik memang membuat tidak nyaman, merontokkan ego dan kewibawaan semu, namun justru menolak kritik atau koreksi berarti menutup peluang untuk berkembang dan memperbaiki diri.

Kritik merupakan cermin bagi kita, saat koreksi diabaikan maka proses belajar berhenti dan kesalahan akan terus berulang.

Kritik dan koreksi menjadi alarm dini bagi kita sebelum kekeliruan menjadi langgeng dan kebiasaan serta alat untuk mengenali kelemahan pada diri kita.

Menghadapi kritik memang tidak mudah ia dapat menimbulkan rasa tidak nyaman namun justru kritik justru memaksa kita berefleksi.

Dengarkan kritik dengan pikiran terbuka carilah nilai kebenarannya lalu ambil bagian yang berguna.

Pujian dan tepuk tangan memang membuat kita nyaman, namun kritik akan membuat kita berbenah diri dan tumbuh bijaksana.

Gambar : ilustrasi AI

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *