Leadership XYZ (bagian 1)

“Penghormatan bisa dibeli, tapi kehormatan tidak, jaga kehormatan itu”. Pesan dari penulis kepada saya yang di tulis tangan pada sampul buku leadership XYZ 3 generasi bicara hidup dan kepemimpinan. Pesan penuh makna itu menjadikan saya penasaran dengan isi buku ini dan tidak perlu waktu lama untuk melahap halaman demi halaman.

Bagi yang ingin belajar tentang kepemimpinan, buku ini layak dibaca. Ditulis oleh 3 orang penulis yang berbeda generasi namun sama-sama pernah menjadi ketua OSIS pada eranya. Berbeda dengan buku self improvement umumnya, tulisan mudah dicerna untuk semua kalangan, halaman tidak terlalu tebal dan penulisannya tidak begitu padat terdapat beberapa kalimat yang dicetak tebal seperti penekanan, sehingga mudah untuk membaca, menikmati dan disediakan ruang mengambil jeda untuk merefleksi bagi pembacanya.

Kesempatan ini saya hanya meringkas 2 bab pertama dari buku ini. Sayang kalo dalam buku yang bagus ini banyak dilewatkan.

Dibuka dengan bagaimana memahami makna leadership itu sendiri. Memimpin bukan harus memiliki jabatan, tapi ia selalu berarti mengambil tanggung jawab pada diri sendiri pada sekitar dan pada zaman. Umumnya leadership dimaknai secara dangkal, hanya sebatas memiliki kursi jabatan, memegang posisi puncak, berdiri di mimbar atau podium, namun leadership merupakan tanggung jawab yang melekat pada manusia yang hidup. Maka kepemimpinan adalah perjalanan bukan titik pencapaian.

Perspektif Leadership bagi generasi X, pemimpin adalah orang yang berani dulu berjalan dalam badai melainkan agar orang lain bisa lewat dengan aman. Maka untuk bisa sampai titik itu harus terlebih dahulu berlayar memimpin satu orang yaitu dirinya sendiri.  Bagi generasi Y memimpin itu bukan tentang memberi motivasi atau ide besar tapi cukup hadir, mendengarkan, memberi ruang dan menjadi tempat pulang dari kebingungan.  Sedangkan generasi Z memaknai pemimpin bukan soal tahu semua jawaban, tapi soal tetap hadir ketika semua mencari arah.

Bab berikutnya penulis menguraikan arti self leadership, setiap hari adalah arena yang harus di taklukkan, kadang menemukan lembah / valley dalam hidup. Lembah artinya titik paling sunyi, paling rendah dan paling sakit, tapi tempat dimana cahaya kecil mulai menyala dan kita berkenalan dengan diri sendiri.

Lembah adalah awal bukan akhir, ia bisa menjadi tempat keberanianmu lahir, arahmu jelas, dan empati orang bertumbuh. Setiap langkah di lembah mengajari satu hal : rasa sakit, kehilangan, dan ketidakadilan tidak selalu jadi titik henti : mereka bisa menjadi titik mula.

Pemimpin harus memiliki jiwa resiliensi yaitu kemampuan untuk bertahan, bangkit, dan beradaptasi setelah kesulitan datang namun tetap jaga arah dan tujuan. Ketahanan atau resiliensi bukan muncul tiba-tiba ia datang dari pekerjaan yang membosankan, berulang, dan sama sekali tidak bergengsi.  Tapi dari situlah ia belajar kesabaran, ketekunan, dan mentalitas bertahan. Latihan dari situlah yang kelak menjadi fondasi saat menghadapi krisis besar.

Kepemimpinan sejati tidak dimulai dari podium, tapi dari luka yang kamu rawat sendiri, dari luka yang tidak dibiarkan membusuk tapi diubah jadi pelita untuk jalanmu sendiri dan jalan orang lain. Kepemimpinan bukan dari podium yang penuh sorot lampu, tapi dari ruang tamu rumah sendiri waktu matahari belum terbit.

Pemimpin harus memiliki vision and value, kepemimpinan tidak selalu dimulai dari jabatan, tapi dari sebuah Keputusan kecil : untuk bermimpi. Kalau kamu tahu siapa dirimu, dan tahu ke mana kamu ingin melangkah  meski belum punya semuanya, kamu sudah mulai memimpin.

Visi bukan hanya soal memiliki mimpi besar, visi adalah keberanian untuk memulai kesabaran untuk bertahan, dan keyakinan untuk terus mendaki meskipun tanjakannya Panjang dan curam.

Penulis menyampaikan bahwa seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan berpikir kritis. Critical thinking bukan soal pintar bicara, pintar debat, paling vokal. Namun, ia adalah senjata utama untuk tetap waras saat semua terasa kacau. Ia merupakan rem saat keadaan terlalu baik dan kita tergoda untuk takabur. Ia adalah alat proteksi diri dari dunia luar maupun dari ego dan asumsi-asumsi sesat kita sendiri.

Bab ini ditutup dengan “Sekolah akan melatih kita memecahkan soal. Kehidupan akan menguji kita untuk menyatukan makna”, kata Intan sahara dalam bukunya psikologi & engineering of mind.

Tunggu ringkasan berikutnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *